FEODALISME DALAM ZAMAN ORDE BARU

FEODALISME dan neo-feodalisme kiranya tidak jauh berbeda. Hanya waku yang menentukannya. Kalau feodalisme terjadi pada zaman kerajaan Hindu, sedangkan neo-feodalisme hidup subur pada zaman Orde Baru. Kedua bentuk feodalisme menganggap rakyat jelata sebagai perkakas melulu demi titisan dewa. Kalau era orde baru rakyat merasa diperas oleh kepala negara, petinggi-petinggi negara dan kaum pengusaha melalui praktek KKN. Telah diungkapkan bahwa kerajaan-kerajaan Hindu dengan sistim pemerintahan feodalisme telah menguasai nusantara sekitar 10 abad lamanya. Feodalisme pun membekas keras dalam benak manusia Indonesia. Pengaruhnya pun tidak mudah dihapus begitu saja. Hal yang demikianlah yang dapat dipahami sebagai akar dari apa yang disebut menjelang abad ke-21 ini sebagai neo-feodalisme.

Sesungguhnya konsep yang mendasar dalam neo-feodalisme adalah konsep yang dikemukakan mantan presiden Sukarno terdahulu yakni, ” Raja dan balakeningratannya adalah titisan dewa”. Dengan keyakinan tersebut, jadi yang harus disembah-sembah dan diagung-agungkan oleh rakyat bukan saja raja tetapi juga balakeningratannya. Dan dalam zaman moderen ini, terlebih lagi pada zaman orde baru, balakeningratan itu adalah orang-orang yang berkuasa dan kroni-kroninya serta anak-cucunya.

Mengapa kaum balakeningratan para penguasa pada zaman orde baru amat dominan sehingga rakyat jelata Indonesia waktu itu hanya menjadi masyarakat kuli atau perkakas melulu? Hal ini memang diciptakan oleh sekelompok orang-orang yang berkuasa atau bajingan yang ingi tetap berkuasa dengan tuduk pada pemerintahan sang raja. Tradisi-tradisi feudal seperti penghormatan yang berlebihan atas pemimpin dan kerabatnya terus dilestarikan.

Selama 32 tahun manusia Indonesia seperti dicuci otak oleh orang yang berkuasa melalui berbagai tradisi patuh pada pimpinannya. Sepeti yang telah dikemukakan terdahulu dalam sistim feodalisme kuno rakyat berorientasi keatas, ialah sang raja sebagai titisan sewa, yang bersifat keramat dan merupakan puncak dari segala hal dalam negara dan merupakan pusat dari alam semesta. Di masa orde baru, pemerintah merupakan pusat dari segala kegiatan di alam Indonesia ini. Wacana-wcana intelektual dan kebudayaan serta berbagai bentuk-bentuk organisasi kemasyarakatan dibentuk untuk mendukung tujuan-tujuan tersembunyi pemerintah. Conto dari kegiatan P4 dan BP7 yang mengagung-agungkan pemerintahan sebagai unsure pemersatu bangsa yang sesungguhnya dapat dipahami sebagai alat untuk pengubah pola pikir masyarakat.

Berikut ini adalah contoh yang menonjolkan jenjang feodalisme yang menonjolkan jenjang atau tingkat masyarakat yang amat kentara : apabila seorang menetri atau pejabat mengadakan pesta pora pernikahan anaknya, seluruh karyawan atau balakeningratannya akan ikut serta dalam persediaan kegiatan tersebut. Mereka diberi seragam sesuai dengan fungsinya dan derajatnya. Dengan kata lain, manusia Indonesia terbiasa dengan pengkotak-kotakan dalam fungsi dan drajatnya sebagai karyawan dan juga pelayan “bapak” seperti lazimnya system feodalisme.
(Dikutip dari : Buku “Manusia dan Kebudayaan Di Indonesia Teori dan Konsep (edisi revisi) cetakan tahun 2002, karangan : Dr. Hj. Sofia Rangkuti-Hasibuan,M.A, halaman 57-64,Dian Rakyat. Jakarta)

0 Responses to “FEODALISME DALAM ZAMAN ORDE BARU”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: