KTSP Menambah Bobot Pembelajaran

KTSP Menabah Bobot Pembelajaran

Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tetang system Pendidikan Nasional dan PP No. 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan, mulai tahun ajaran 2006/2007, Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) telah disempurnakan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Menurut Dikmenjur Dinas Pendidikan Propensi Bali, Drs. Ketut Wija.M.M. menyatakan bahwa haruslah melakukan pelaksanaan uji coba KTSP, bagi sekolah yang belum melaksanakan. Namun pada kenyataan dilapangan banyak para guru khususnya guru SD menyatakan pelaksanaan KTSP merupakan kebijakan yang menambah bobot peranan sekolah walaupun antara KTSP dan KBK filosofinya sama yaitu berbasis kompetesi.
Adapun yang menjadi alasan masalah diatas yaitu pelaksanaan delapan standar yang dilakukan sekolah yang bersangkutan diantaranya standar isi, proses, kompetensi kelulusan, pembiayaan, sarana prasarana, pengelolaan, tenaga kependidikan dan penilaian. Kedelapan standar inilah yang menjadi beban sekolah.

KOMENTAR :
Menurut saya pelaksanaan KTSP disekolah jangan dianggap sebagai beban sekolah, karena pada dasarnya disinilah kesempatan mewujudkan kemampuan siswa yang berkompetensi dari pelaksanaan KTSP tersebut. Dengan situasi ini justru sekolah inilah yang mengetahui permasalahan-permasalahan peserta didik di ruang pendidikan tentunya. Sebagai tenaga pendidik haruslah mendalami KTSP itu seperti apa, bukan pelaksanaan yang dimaksud tetapi makna dari KTSP tersebut. Jika kemampuan sekolah terbatas dalam hal pengembangan kurikulum, sekolah bersangkutan dapat menggunakan standar minimal dan lingkungan menjadi medianya. Sebaliknya, jika sekolah telah benar-bebar siap dan telah memiliki sumber daya yang cukup baik maka bias mengembangkan standar isi dan kompetensi diatas standar minimal.

Guru dan Siswa Dituntut lebih Aktif dan Inovatif

Materi muatan KTSP menuntut guru lebih aktif dan inovatif. KTSP diarahkan untuk memberikan keleluasaan guru dan sekolah untuk membuat kurikulum sendiri disesuaikan dengan kkeadaan siswa, keadaan sekolah, dan keadaan lingkungan sekolah yang bersangkutan.
Adanya perubahan kurikulum ini merupakan suatu kebutuhan perkembangan dunia pendidikan yang menuntut siswa lebih aktif di dalam KTSP. Kemungkinan adanya keragaman guru dalam pengmbangan materi sesuai dengan keragaman sekolah tetapi merupakan awal yang baik dalam dunia pendidikan.
Indicator dan materi pokok dikembangkan sendiri oleh guru dan sekolah. Guru yang selama ini terbiasa menjalankan program pembelajaran yang sudah disediakan, dituntut siap memanfaatkan keleluasaan dengan sebaik-baiknya, bahkan nantinya guru yang membuat kurikulum sendiri.
Tidak ada lagi kesan guru �madul� dalam pendidikan dan guru yang koservatif. Terlebih sesuai UU No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang dituntut lebih profesional.

KOMENTAR :
Pelaksanaan KTSP disekolah pada nantinya akan mewujudkan suatu perubahan di dalam dunia pendidikan yang bersifat dental otonomi yang diberikan pada guru dalam menyusun kurikulum akan menumbuhkan kreatifitas baru bagi guru, karena guru merupakan konseptor yang nantinya akan lahir pemikiran yang berkaitan dengan kemajuan siswa. Memang tidak semua berbeda antara kurikulum sekolah dengan sekolah lainnya. Acuannya tetap pada satu koridor standar kompetensi dan kompetensi dasar pemerintah pusat. Keragaman justru membuat guru lebih inofatif dan kreatif dalam mengembangkan kurikulum.

OPINI
Apa artinya anak-anak yang lulus sekolah tetapi banyak pula yang segera menjadi pengangguran. Dan apapula artinya banyak yang sudah bekerja tetapi tidak produktif, karena tidak memiliki skill yang kompetitif.
Pada umumnya warga sekolah mendukung penyempurnaan, tetapi mereka tidak senang dengan perubahan dan perubahan itu akan terus berlangsung dan permanent. Sekolah yang efektif harus belajar mengatasi dan melakukan perubahan itu sendiri .
Sosialisasi KTSP diharapkan mampu menumbuh pemahaman positif yang menghantarkan kita pada kesadaran pendidikan melalui strategi akan pentingnya perubahan serta manfaat KTSP sebagai alternative pemilihan konsep sistematisasi pembelajaran yang dapat memperbaiki keadaan dan ketinggalan.
Dari pergeseran paradigma ini nampak secara konseptual materi pokok sudah diserahkan pada pembentukan skill dan sikap ilmiah yang terukur dalam bingkai standar kompetensi dan indicator pencapaian hasil belajar dengan pengintegrasian aspek kognitif, apektif dan psikomotorik secara professional.

KOMENTAR :
KTSP bukanlah sesuatu yang dianggap sebagai jagoan baru didunia pendidikan yang latah digunakan lewat teori abstrak atau hal lainnya. Namun KTSP lebih merupakan upaya riil dalam menata, mengembangkan, dan meningkatkan kualitas kebermaknaan pembelajaran. Dengan potensi-potensi yang sudah ditetapkan harus dipertimbangkan adanya divertifikasi berkaitan dengan keanekaragaman kemampuan peserta didik. Kondisi sekolah dan kultur daerah setempat inilah akan mengetahui kemampuan kompetensi tersebut, diharapkan akan berimplikasi pada perubahan kebiasaan cara berpikir dan bertindak yang pada gilirannya akan membentuk kecakapan hidup (Live Skill)

2 Responses to “KTSP Menambah Bobot Pembelajaran”


  1. 1 prabu 12 Januari 2009 pukul 11:11 am

    Pendidikan di Indonesia sekarang sedang mengalami kemunduran dengan disyahkannya UU BHP, rakyat miskin dilarang sekolah.
    http://www.warnadunia.com/

    Salam kenal^_^

  2. 2 herlina 7 Juli 2009 pukul 9:56 am

    cenderung sulit mengatakan antara teori dan praktek di lapang jauh berbeda artinya dibutuhkan dan menuntut adanya kreativitas baik dr guru or siswa itu sendiri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: