Suasana Panca Bali Krama di Pura Besakih

Hari ini hari Jumat tanggal 10 April 2009, saya dan keluarga saya sembahyang ke Pura Besakih dalam rangka memperingati Hari Raya Panca Bali Krama. Saya dan keluarga berangkat pukul 07.00, sekitar 20 menit perjalananan akhir nya kami tiba juga di Pura Besakih, maklum desa tempat saya berada tidak terlalu jauh dari Pura Besakih. Setibanya di sana, kami langsung menuju ke pedarmaan kami (Pasek). Saya pikir karena berangkatnya pagi jadi orang-orang yang datang untuk bersembahyang tidak terlalu ramai, namun periraan saya waktu itu salah. Meskipun saat itu masih terbilang pagi, namun area sekitar pura pedarmaan sudah sesak dipenuhi dengan orang-orang yang akan bersembahyang di pura tersebut. Mau tidak mau kami juga harus ikut berdesak-desakan di sana. Setelah sekian puluh menit kami berdesak-desakkan di sana akhirnya kami berhasil memasuki area pura pedarmaan kami dan langsung mengambil posisi disana. Nah, teryata kata bibi saya, saya dan keluarga saya salah ngunggahang banten, dan sekalian salah ngambil posisi tempat duduk. Saat itu bibi saya ngomel-ngomel ga jelas, katanya khusus untuk keluarga kami, kami harus ngunggahang banten di dekat meru tumpang pitu sementara ibu saya ngunggahang bantennya bukan di dekat meru tumpang pitu, akhirnya ibu saya pun jadi sasaran cercaannya. Namun, ibu saya tidak terlalu mempedulikan kata-kata bibi saya itu, namanya juga orang ga tahu mau gimana lagi, apalagi melihat situasi saat itu yang serba berebutan, mestinya kan orang yang lebih tahu harusnya ngasi tahu ke orang yang kurang tahu, padahal jelas-jelas waktu di pura pedarmaan tersebut sebelum kami ngunggahang banten dan mencari posisi tempat duduk kami berada di dekat bibi saya itu, tapi kenapa kami tidak dihimbau. Dengan tenang, setelah selesai sembahyang dipedarmaan saya dan keluarga langsung menuju ke area penataran agung. Saat akan memasuki area penataran agung pun tidak kalah berdesak-desakkannya, namun kami tidak terlalu merasa terganggu dengan acara desak-desakkan tersebut, kan orang yang datang ke pura saat itu datang dari penjuru daerah jadi wajar kalau berdesak-desakkan. Nah, sebelum persembahyangan di penataran agung dimulai, saya manfaatkan waktu yang singkat itu untuk mengabadikan moment 10 tahun sekali itu. Begini nih hasil jeperetan saya (maaf, kualitasnya ga bagus, maklum Cuma pake hape kamera doang).

Setelah selesai melakukan persembahyangan di penataran agung ada 3 tempat lagi yang akan kami datangi, salah satunya adalah pura gelap, namun tidak akan saya ceritakan ( maklum saya udah capek, jadi ngetiknya juga jadi males). Waktu terus berjalan, akhirnya selesai juga kegiatan persembahyangan kami , namun kami belum bias bernafas lega, sebab jalan yang menuju jalan keluar pura begitu sesak dipenuhi orang-orang yang akan sembahyang di pedarmaan Pasek, jumlahnya ratusan atau mungkin ribuan. Sudah begitu orang-orang yang sudah selesai sembahyang juga memakai jalur tersebut untuk keluar area pura, jadi otomatis orang yang akan pergi meninggalkan area pura bentrok dengan orang-orag yang akan bersembahyang. Melihat kejadian tersebut, kami dan beberapa orang lainya naik ke tembok untuk bisa keluar dari antrian yang tak terkndali tersebut. Demikianlah kisah kecil saya. Mohon maaf jika ada salah2 kata. Terimakasih

0 Responses to “Suasana Panca Bali Krama di Pura Besakih”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: